Friday, May 1, 2015

Mengenal Lebih Dekat "Ki Hajar Dewantara"

Ki Hajar Dewantara 
(1889-1959)

Siapakah Ki Hajar Dewantara Itu?

Pernakah kamu mendengar nama Bapak Pendidikan Nasional? Siapakah beliau? Bapak Pendidikan Nasional itu bernama Ki Hajar Dewantara. Ia di lahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta.
Sebenarnya, ia adalah keluarga bangsawan di lingkungan Keraton Yogyakarta. Nama asli beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Saat berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, namanya diganti menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dilakukan agar beliau lebih dekat dengan rakyat.

Apa saja pengabdian beliau kepada Bangsa Indonesia?

Sekolah dasar tempat Ki Hajar Dewantara menimba ilmu saat itu bernama ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Setelah itu, beliau melanjutkan sekolah di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Sayangnya, beliau tidak menamatkan ssekolah di STOVIA karena sakit. Meskipun demikian, Ki Hajar Dewantara tetap bersemangat menimba ilmu. Ia lalu bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia termasuk penulis handal saat  itu. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam, patriotic dan bersemangat anticolonial. Jadi tidak heran jika banyak pembaca yang bangkit melawan penjajahan setelah membaca tulisannya. Selain menjadi wartawan, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif dalam pergerakan Boedi Oetomo (BO). Ia ikut menyebarkan dan membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk bersatu. Lalu pada 25 Desember 1912 bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, beliau mendirikan Indische Partij. Tujuan mendirikan Indische Partij adalah mencapai Indonesia merdeka.

Perjuangan beliau melalui dunia politik dilanjutkan dengan membentuk Komite Bumiputera pada November 1913. Mungkin kamu masih ingat dengan paksaan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan prancis. Nah, Komite Bumiputeralah yang akan menandingi Komite Perayaan 100 Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Bumiputera terus memberikan kritik kepada pemerintahan Belanda. Apalagi waktu itu Belanda juga memungut uang dari daerah jajahannya untuk membiayai pesta perayaan itu. kritikan itu ia tuangkan di dalam Surat Kabar De Express milik Douwes Dekker. Kritikan itu berjudul Als Ik Eens Nederlander (Seandainya Aku Seorang Belanda). Seperti apakah bunyinya? Coba simak kritikan beliau dibawah ini.

Akibat kritikan itu, Ki Hajar Dewantara mendapat hukuman. Beliau dibuang di Pulau Bangka. Semua itu memang tidak adil. Oleh karena itu, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo ingin membantu Ki Hajar Dewantara agar terbebas dari hukuman yang diberikan oleh Belanda. Merekapun menerbitkan tulisan yang intinya membela KI Hajar Dewantara. Akan tetapi, menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memberontak pemerintah colonial. Akibatnya, kedua tokoh itu juga mendapat hukuman. Douwis Dekker dibuang ke Kupang  dan Cipto Mngunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Tempat pembuangan yang diberikan Belanda sangat terpencil. Mereka tidak bisa mengembangkan ilmu mereka disana. Suatu hari mereka menajukan usul kepada Belanda agar bisa dibuang ke Negeri Belanda agar mereka dapat belajar banyak hal. Akhirnya, pada bulan Agustus 1913, permintaan mereka dikabulkan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ki Hajar Dewantara untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran disana. Prestasinya ditunjukan dengan berhasil memperoleh Europeesche Akte. Setelah itu, pada tahun 1918 ia kembali ke tanah air. Beliau mencurahkan perhatian dibidang pendidian sebagai bagaian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional bersama teman-temannya. Nama perguruan itu adalah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekannkan pendidikan rasa kebangsaan kepada siswanya. Mereka ditanamkan rasa mencintai bangsa dan tanah air untuk berjuang memperoleh kemerdekaan. Setelah zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Berbagai penghargaan ia dapat atas prestasinya. Salah satunya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Sayangnya, dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia. Beliau meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Apa bentuk penghargaan pemerintah kepada beliau?

Atas jasa-jasa beliau, pemerintah memberikan gelar pahlawan nasioal melalui SK Presiden RI Nomor 305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959. Selainn itu, pemerintah juga menetapkan tanggal kelahirannya, 2 Mei sebagai hari pendidikan.

Bukan hanya itu, di Yogyakarta didirikan Museum Dewantara Kirti Griya oleh pihak penerus perguruan Tamansiswa Museum ini menyimpan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara sebagai pendiri Tamansiswa dan jasa beliau untuk memajukan bangsa Indonesia.


















Oleh : Ahmad Abdul Mujib

KiHajarDewantara

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)




Siapa yang gak kenal sosok tokoh pendidikan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar yang bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat merupakan tokoh pendidikan nasional. Aktivitasnya dimulai sebagai jurnalis pada beberapa surat kabar dan bersama EFE Douwes Dekker, mengelola De Expres. Ki Hadjar pun aktif menjadi pengurus Boedi Oetomo dan Sarikat Islam. Selanjutnya bersama Cipto Mangun Kusumo dan EFE Douwes Dekker — dijuluki ”Tiga Serangkai” — ia mendirikan Indische Partij, sebuah organisasi politik pertama di Indonesia yang dengan tegas menuntut Indonesia merdeka. Pada zaman Jepang, peran Ki Hadjar tetap menonjol. Bersama Soekarno, Hatta, dan Mas Mansur, mereka dijuluki “Empat Serangkai”, memimpin organisasi Putera. Ketika merdeka, Ki Hadjar menjadi Menteri Pengajaran Pertama.
Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun TulodoIng Madyo Mbangun Karso,Tut Wuri Handayani. Yang pada intinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya.
Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang aratinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin adalah kata suri tauladan. Sebagai seorang pemimpin atau komandan harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak buah atau bawahannya. Banyak pimpinan saat ini  yang sikap dan perilakunya kurang mencerminkan sebagai figur seorang pemimpin, sehingga tidak dapat digunakan sebagai panutan bagi anak buahnya. Sama halnya dengan Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seorang peminpin ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahanya. Karena itu seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan kerja. Demikian pula dengan kata Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seorang komandan atau pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh bawahan, karena paling tidak hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.
Untuk mengenang jasa beliau, maka PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional 2 Mei tidak bisa dipisahkan dari sosok Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Semoga kita sebagai generasi muda bisa melanjutkan cita-cita beliau, dan dapat mengamalkan ajaran yang telah diberikan. (Amin)